Manggadong sebagai Kearifan
Lokal dalam Menyelamatkan Ketahanan Pangan serta Penerapan One Day No Rice di
Sumatera Utara
Oleh: Rizki Adila
Email: rizkiadila31@gmail.com
Sebagai putri daerah
Sumatera Utara sudah sepatutnya saya bangga dengan kampung halaman sendiri.
Sumatera Utara yang terkenal dengan keberagaman suku bangsa mulai dari Suku
Batak, Suku Melayu, Suku Jawa dan masih banyak lagi, tentu memiliki banyak kebudayaan
sebagai identitas asli penduduk Sumatera Utara. Salah Satu kebanggaan yang
perlu dilestarikan ialah “Manggadong”. Gadong berasal dari Bahasa batak yang
artinya ubi, sedangkan Manggadong berarti tradisi mengonsumsi ubi baik sebagai
makanan utama ataupun panganan untuk kegiatan tertentu. Kebudayaan ini berawal
dari sebuah kebiasaan ketika krisis perekonomian keluarga, sehingga sulit
mendapatkan beras untuk dimakan. Selain itu, tujuan dari kebudayaan tersebut
ialah dengan menikmati ubi terlebih dahulu maka tidak perlu mengonsumsi nasi
terlalu banyak dikarenakan perutnya telah terisi makanan tersebut.
Oleh karena itu, kebudayaan
ini berpengaruh terhadap ketahanan pangan di Sumatera Utara dikarenakan dapat
mengurangi perilaku konsumtif terhadap beras dan juga baik untuk diversifikasi
pangan. Selain itu, perilaku Manggadong tersebut juga sangat berpengaruh dengan
Gerakan Satu Hari Tanpa Nasi ( One Day No
Rice). Berdasarkan Surat Edaran Gubernur Sumatera Utara
Nomor ; 501/1508/Tahun 2014 tanggal 25 Februari 2014 tentang Pelaksanaan
Gerakan Satu Hari Tanpa Nasi ( One Day No
Rice) di Provinsi Sumatera Utara yang dilaksanakan setiap hari selasa pada
setiap minggunya dengan dipelopori oleh PNS untuk tidak menyajikan makanan dari
beras dan Terigu pada kantin/kantin SKPD setiap selasa dan menggantinya dengan
bahan pangan lokal. Sehingga perlunya sinkronisasi peranan manggadong dengan
program gerakan One Day No Rice untuk
pengoptimalan ketahanan pangan di Sumatera Utara. Berikut data konsumsi pangan
Provinsi Sumatera Utara:
Tingkat Konsumsi Pangan: Beras, Ubi
kayu, Ubi jalar, Sagu, Umbi Lainnya dan Terigu Menurut Tahun Pengeluaran
(kg/kap/th)
|
Tahun Pengeluaran
|
Beras
|
Ubi kayu
|
Ubi
|
Sagu
|
Umbi lainnya
|
Terigu dan turunanya
|
|
jalar
|
||||||
|
2013
|
110,1
|
5
|
0,8
|
0,1
|
0,2
|
7,5
|
|
2014
|
108,9
|
5,8
|
1
|
0
|
0,4
|
7,6
|
|
2015
|
114,8
|
6
|
2,4
|
0,1
|
0,4
|
12,3
|
|
2016
|
114,7
|
6,6
|
2,6
|
0,1
|
0,5
|
10,9
|
|
2017
|
112,6
|
9,7
|
1,3
|
0,1
|
0,7
|
12
|
Sumber:
Susenas (diolah)
Berdasarkan
data diatas juga terjadi ketidakstabilan pengeluaran konsumsi pangan, yaitu
setiap tahun kadang mengalami kenaikan dan penurunan per kg/kap/th. Puncak
pengeluaran beras terbesar terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar 114,8
kg/kap/th dan paling rendah pada tahun 2014 sebesar 108,9 kg/kap/th. Untuk ubi
kayu mengalami kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap tahunnya mulai
dari 2013 sebesar 5 kg/kap/th hingga tahun 2017 sebesar 2017 sebesar 9,7
kg/kap/th. Untuk ubi jalar juga mengalami peningkat mulai dari tahun 2013 hingga
tahun 206 dengan rerata kenaikan sebesar 0,2 kg/kap/th. Namun, pada pengeluaran
tahun 2017 langsung menurun drastic yaitu sebesar 1,3 kg/kap/th. Begitu juga
dengan kosumsi lainnya, ketika mengalami penurunan pengeluran pada satu jenis
bahan pangan sebenarnya meningkat untuk jenis bahan pangan lainnya. Seperti
terlihat oleh grafik dibawah ini:

Sumber:
Susenas (Diolah)

Sumber:
Susenas (diolah)
Terlihat
dari grafik diatas bahwa diketahui tingkat konsumsi beras tidak menentu
terkadang naik dan turun. Inilah yang perlu dikaji alasan dibalik
ketidakstabilan dari konsumsi beras. Pada saat mengalami penurun bisa saja
menguntungkan pada satu jenis sumber pangan lainnya. Dan menyebarkan
keberanekaragaman jenis pangan (diverfikasi) agar seluruh kalangan dapat
mengonsumsi apa saja tanpa merasa dibatasi oleh materi. Sedangkan untuk
umbi-umbian mengalami kenaikan dikarenakan untuk meminimalisir penggunaan beras
untuk konsumsi panganan pokok. Olahan umbi-umbian seperti ubi kayu/singkong ini
dapat berupa hanya direbus saja, atau dibuat gethuk dalam Bahasa Jawa. Dan untuk sagu, yang dijadikan makanan
pokok oleh masyarakat Indonesia bagian Timur biasanya diolah menjadi papeda.
Maka
dari itu sebenarnya kita sudah mengetahui bahwasannya manggadong ini cukup
efektif dibuktikan dengan konsumsi umbi – umbian yang cenderung mengalami
peningkatan tiap tahunnya. Terlebih lagi wilayah Sumatera Utara memiliki iklim
yang tropis dan penyinaran matahari yang cukup sehingga dapat ditanami oleh
tumbuhan apa saja. Seperti halnya tanaman ubi kayu, yang tidak memerlukan lahan
yang luas untuk dibudidayakan karena dapat hanya dijadikan pagar perkarangan
tumbuhan rempah seperti kunyit, jahe, lengkuas dan sebagainya. Inilah yang
lebih mengefisiensikan bahwa Manggadong layak digalakkan dalam mengupayakan
pengurangan konsumsi beras yang sudah semakin konsumtif kedepannya.
Berdasarkan
data – data diatas dapat disimpulkan bahwa peranan manggadong sangat efektif
diterapkan di wilayah Sumatera Utara terlebih lagi Indonesia yang mayoritas
sanagt mudah ditemukan umbi-umbian seperti diatas. Oleh karena itu, peranan
manggadong tersebut juga dapat diseimbangkan dengan gerakan hari tanpa nasi
agar sedikit demi sedikit pola konsumtif masyarakat terhadap beras mengalami
penurunan. Disinilah peranan kita sebagai anak muda untuk menggelorakan gerakan
yang bernilai positif dalam Ketahanan Pangan di Indonesia. Sudah selayaknya
juga Indonesia tidak perlu lagi mengimport beras ke dalam negeri. Melainkan
dengan mengefiensikan cadangan beras yang ada dan diseimbangkan dengan konsumsi
umbi-umbian sebagai pengganti beras maka dapat membuat Ketahanan Pangan
Nasioanl yang baik tanpa ada batasan materi bagi setiap kalangan masyarakat.
Sumber:
Aritonang, E., Naria, E., &
Rohana, A. Analisis Potensi" Manggadong" Sebagai Kearifan Lokal
Sumatera Utara dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Rumahtangga di Kabupaten Deli
Serdang Provinsi Sumatera Utara.
Badan
Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian. 2018. Direktori Pengembangan
Konsumsi Pangan. Jakarta
Karni, M. H., Lubis, S. N., &
Ayu, S. F. (2013). Analisis TIME Series Produksi dan Konsumsi Pangan Ubi Kayu
dan Ubi Jalar di Sumatera Utara. JOURNAL ON SOCIAL ECONOMIC OF AGRICULTURE
AND AGRIBUSINESS, 2(6).
Semoga suka dengan karya saya ya All readers
BalasHapus